Akibatnya

“Sekarang, lu udah tau, kan, akibatnya?!” katanya, alis matanya hampir menyatu, matanya terus menatap gue. Sungguh tajam pandangannya. Dan gue merasa semakin takut. “JANGAN GANGGU ISTRI GUE LAGI! NGERTI LO?!”

Gue habis ditonjok tepat di wajah sekitar 4 atau 5 kali oleh seorang cowok bernama Agus yang usianya kira-kira 26 tahun. Dia melakukan itu karena menyangka gue telah menggoda Rani, istrinya. Padahal gue nggak menggodanya. Sumpah, deh. Gue sama Rani nggak ngapa-ngapain, kami berdua cuma khilaf tidur bareng tanpa busana.

Wajah gue benar-benar bonyok. Hidung gue bercucuran darah. Kegantengan gue hilang seketika. Dajjal bangkit dari dalam bumi. Imam Mahdi ikutan muncul.
Loh, mau kiamat dong?

Kemudian, Agus mendorong gue sampai terjatuh.

Ia menginjak-nginjak tubuh gue, mulutnya pun mengeluarkan kata-kata kotor, "Jamban! Ingus ijo! Berak laler!" dan kata-kata lainnya yang terdengar tidak begitu jelas.

“Sekarang, lu udah tau, kan, akibatnya?!” ujarnya, kali ini sambil menendang kepala gue yang sudah tergeletak lemas di tanah. 


***


Astagfirullah. Bagus cuma mimpi.

“Sekarang, lu udah tau, kan, akibatnya?!”

Di kepala gue saat ini, terdengar suara-suara aneh yang campur aduk. Saking anehnya, kalimat di dalam mimpi itu yang malah terdengar terus-menerus.

Gue mendadak takut. Kenapa begini, ya?

Jangan-jangan di dalam kepala gue ada orang lain yang bersembunyi?
Atau di kepala gue dipasangi sebuah chip rahasia gitu sama seseorang (ngaco abis).
Atau jangan-jangan gue lagi disantet?! (sumpah, ini ngaconya doubleabis).

Gue pun jadi kepikiran untuk menyelidiki hal apa saja yang telah mengganggu kepala gue hampir belakangan ini.

Ternyata gue baru sadar kalo keseringan tidur dengan pola yang kacau.

Sebelum membaca lebih lanjut, kalian pasti nggak begitu asing sama tulisan mengenai kurang tidur. Iya, gue sudah menulisnya terlebih dulu sewaktu gue sakit. Padahal seharusnya tulisan ini yang lebih dulu di-posting. Entah kenapa, malah jadi belakangan.

Tapi, ya udahlah. Siapa tau ada yang belum sempet baca. Karena ini sepertinya bakal lebih lengkap.

Semua berawal dari perayaan tahun baru (dibaca: perayaan sialan) itu. Menyebabkan gue nggak tidur sampai pagi. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya, sekitar pukul dua atau tiga dini hari gue pasti sudah tidur karena kekenyangan makan hasil bakar-bakar: ayam bakar, sosis bakar, dan abu bakar (ini bukannya nama orang?).  Astagfirullah. Sahabat Nabi dibercandain.

Namun, tidak di tahun baru sekarang. Gue kala itu mengadakan acara di rumah teman. Di mana banyak teman-teman yang menginap. Sehingga gue terpaksa juga ikut menginap. Yang jadi masalahnya, gue selalu sulit tidur ketika di tempat baru. Apalagi kalo banyak yang berisik. Apalagi kalo pada main PES. Apalagi kalo nggak ada yang bisa dikelonin. Emaap. Maksudnya guling.

Dari situ, mulailah jam tidur yang nggak keruan.

Padahal gue sudah bikin catatan di tahun baru ini, untuk memulai hidup yang lebih baik. Nggak ada lagi begadang-begadang kalau tidak ada artinya. Begadang hanya karena terpaksa, deadline tugas atau kerjaan saja.

Tapi ya, namanya juga kebiasaan. Pasti susah untuk dihilangkan.

Lalu, gue menyimpulkan akibat apa saja yang terjadi pada gue karena kurang tidur ini.


***

Satu. Pikiran jadi kacau.

Gue masih ingat betul waktu itu ada deadline tugas makalah yang kudu dikumpulkan untuk syarat mengikuti UTS/UAS (gue lupa tepatnya). Karena baru tidur sekitar 3 jam, gue pun terngantuk-ngantuk di kelas.

Saat mengerjakan soal, gue lebih banyak pasrahnya. Gue pasrahkan ke beberapa teman yang cerdas.
Tapi sayang, gue di kala itu kebagian tempat duduk di barisan depan karena datang sedikit terlambat. Di mana semua teman-teman yang biasanya datang telat, ketika UTS/UAS mendadak berangkat pagi sekali.

Hal itulah yang membuat gue duduk dekat sama dosen pengawasnya. Mampuslah sudah.

Gue pun berusaha mengerjakan soal-soal itu sendiri. Gue tidak bodoh-bodoh amat dalam hitungan. Gue bersyukur hari itu dosen juga memperbolehkan mahasiswanya untuk open book. Berbekal catatan, gue pun mulai mengerjakannya satu per satu. Ada gunanya juga gue sedikit rajin mencatat. Ehehe.

Saat semua soal hampir terjawab, Agus—teman sekelas yang ketika ujian kebetulan duduk di sebelah gue—bertanya, “Yog, ini angka 8 dapet dari mana, sih?”
“Itu, 2 dikali 4. Gitu aja nanya. Udah nyontek ribet deh lu!” jawab gue kesel karena sedang berkonsentrasi. Gue benar-benar fokus mengerjakan soal terakhir.

“Loh, kalo nggak salah ini, kan, rumusnya dipangkat tau, bukan dikali. Coba lu lihat lagi.”

Gue memerhatikan jawaban gue dengan saksama. Lah, iya. Aturan dipangkat, kok gue malah dikali, ya?

“Ehehe, sori-sori. Kurang tidur nih gue.”

Kacau. Angka yang seharusnya dipangkatkan, malah gue kalikan. Oke, kalo aja temen gue nyonteknya kurang teliti, mungkin nilai UAS gue dan dia hancur parah tuh. Buahahaha.

Terima kasih Agus, sudah nyontek jawaban gue. Um... maksudnya sudah ngoreksi jawaban gue.

Dua. Disangka nangis

Di suatu pagi, Rani minta ditemani gue ke kampus untuk bayar semesteran dan nantinya sekalian main sepulang bayar semesteran.

FYI, Agus dan Rani itu emang nama samaran. Udah kebiasaan menggunakan nama itu. Jadi nggak perlu protes atau bosen, ya! Haha.

Setelah urusan administrasi selesai, kami berdua masih duduk-duduk di area kampus sambil ngobrol-ngobrol dan berunding “Mau main ke mana habis ini?”.

Gue yang sedang asyik googling mencari tempat untuk hangout, kemudian dikagetkan dengan pertanyaan, “Yog, lu semalem abis nangis, ya?”

“Hah?” tanya gue kebingungan.
“Hahaha. Iya, lu habis nangis? Jangan bilang nangis karena cinta?” tanyanya lagi.
“Enggak, kok,” jawab gue. “Kenapa sih, Ran?”

Padahal gue emang abis nangis karena diputusin seorang cewek dengan alasan, “Kamu itu kurang besar buat aku.”

Besar gajinya maksudnya.

“Itu, mata lu bengkak banget,” ujar Rani. “Kantong mata lu tuh.” Jari Rani menunjuk ke arah mata gue.

“Ohehe. Yaelah, biasa itu mah. Gue habis begadang ngerjain tugas sambil nulis-nulis cerita gitu.”

Faaakkk. Dia dia menyangka gue beneran habis nangis.

Astagfirullah.

Yekali gue nangis. Emang gue cowok macam apa? Masa iya cowok keren gini nangis? Apalagi nangisin cewek. Hahaha. Ya nggak mungkinlah. Gue tuh udah nggak pernah nangisin cewek lagi. Gue lebih dari itu. Gue meraung-raung sejadi-jadinya dan berniat bunuh diri. Oke, itu masa lalu kelam zaman SMK.

“Jangan begadang mulu. Udah tambah kurus, kantong mata bengkak pula. Sayangi diri lu sendiri dong, Yog.”
Seperti kamu menyayangi aku, Ran?

Tiga. Salah masuk kelas.

Di tengah-tengah perkuliahan jam terakhir: mata kuliah Perbankan, gue ngantuk parah. Gue mengajak Saddam—teman sekelas—untuk ngopi. Tapi, ia tidak merespons ajakan gue. Tak lama kemudian, dia gantian ngajak gue untuk salat Asar.

Tumben amat nih anak.

Oiya, tapi wudu juga bikin seger.

Gue dan Saddam pun izin salat Asar kepada dosen. Begitu kelar salat, gue terburu-buru dan pengin segera ke kelas karena takut ketinggalan pelajaran (oke ini pencitraan).

Begitu masuk kelas dan masih berdiri di dekat pintu, gue tiba-tiba berdiri mematung. Dosen Perbankan yang seharusnya berkepala botak, tiba-tiba berubah menjadi rambut cepak dan beruban.
Dosen gue kok beda?

Setelah melihat ke arah teman-teman, wajah teman gue juga pada berubah. Ngapa jadi pada tua gini?

Karena sedikit lemot akibat kurang tidur, gue masih berpikir. Kenapa mereka bisa berubah gini, ya? Apa gue berhalusinasi?

Akhirnya gue tersadar....

Ternyata. Gue. Salah. Masuk. Kelas.

Ini yang gue masukin kelas 304. Kelas gue itu 403. Masih naik satu lantai lagi. Entah kenapa gue bisa salah. Apa karena angkanya yang hampir mirip? Oh, tidak. Bodoh sekali gue. Dan pantes aja muka mereka banyak yang tua-tua. Ini kelas untuk mahasiswa S2.

Kuampppreettt. Bhangkheee.

Lulus S1 aja belum, gue udah sok mau belajar S2. Dewa sekali rasanya.

Gue pun segera meninggalkan kelas itu. Minta maaf karena salah masuk dan berusaha memasang wajah polos-polos menggemaskan.

Suara tawa mereka terdengar jelas. Gue malu abis.

Sesampainya di kelas 403, gue protes ke Saddam, “Lu kenapa nggak bilang kalo masih di lantai 3?”
Dia pun hanya ketawa-ketawa bahagia melihat kebodohan gue itu.


Keempat. Sakit.

Iya, sudah pernah gue ceritakan di tulisan itu.


Lima. Mati muda.

Gue pernah baca twit dari akun Wowfakta, entah ini beneran fakta apa hoax, tapi simaklah twit berikut ini.

Bahaya kurang tidur

Gue boro-boro tidur 6 jam, bisa tidur selama 4 jam aja rasanya udah bahagia banget.

Dan gue nggak mau mati muda cuma gara-gara kurang tidur. Gue belum kawin, Mak.

Enam. Rajin, terampil, dan gembira.

Eh, ini mah bukan akibat kurang tidur. Ini Dasadarma pramuka.

***

Akibatnya banyak banget, ya. Kurang tidur emang nggak ada baik-baiknya. Well, yang merasa pola tidurnya kacau dan sering kurang tidur, yuk mulai perbaiki. Capek tau bangun siang mulu. Rezekinya nanti dipatok ayam. Eh, tapi kalo dipatok ayam mah gampang, tinggal makan aja ayamnya. Rezekinya bisa balik lagi deh.

Hahaha. Gak lucu, Yog! Garing! Kayak ayam krispi di Kaepci.

Tidur dengan pola teratur itu menyenangkan. Dan gue pernah baca sebuah artikel yang mengatakan kalau tidur malam atau siang yang cukup dapat membuat seseorang jadi lebih kreatif. Selain membuat memori ingatan lebih kuat, otak memiliki banyak kesempatan untuk menggambarkan lebih banyak kreativitas. So, sebagai blogger gue pengin tidur yang cukup untuk memacu kreativitas. Hehehe.

Ini artikel yang gue maksud: Manfaat Tidur Teratur


PS: Maaf kalo penutupnya nggak keren. Ini sebenernya memang tulisan yang sama dengan cerita saat gue sakit, tapi jadinya terlalu panjang. Alhasil, gue membuatnya menjadi dua tulisan. Diketik tanggal 8 Februari 2016 dan diedit sehari sebelum tulisan ini terpublikasi.
SHARE

Unknown

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment